Search

Arrahmat


Kutahu Ar-rahmat
Sejak kelas tiga SD
FISIKA MATEMATIKA segala ilmu
kuenyam ‘tiap hari
Ketika senja tiba
Suasana hening menyelimuti hati
Denting jam dinding
Membuat resah dan gelisah
Ketika pagi ‘kan menjelang
Resah itupun hilang lenyap
Diterjang embun pagi
Disusul Sang Surya mentari
Hawa dingin malam hari
Bagai enyah dalam mimpi
Hawa sejuk embun pagi
Membuatku segar kembali
Makin lama kutinggal disini
Kumakin tahu rahasia apa yang tersimpan
Dibalik semua ini
Tentang kehidupanku disini
Kudiajar disiplin ‘tiap hari
Kutaati peraturan dengan senang hati
Kesabaran ustadz membimbing kami
Membuat hati kami malu dengan tingkah kami
Selama ini …
Kudiajar setia kawan
Dengan alam dan kawan
AR-RAHMAT tercinta
Kau cetak generasi muda berkualitas
Dengan bekal iptek dan agama
Kau ajari kami berakhlaqul karimah
Guna bergaul dengan masyarakat
Bagi adik-adikku
Contohlah kakakmu
Teladanilah yang baik
Padankanlah yang buruk

3 Nasihat


          Pada suatu hari, ada seseorang menangkap burung. Burung itu berkata kepadanya, Aku tak berguna bagimu sebagai tawanan. Lepaskan saja aku. Nanti aku beri kau tiga nasihat.Si burung berjanji akan memberikan nasihat pertama ketika berada dalam genggaman orang itu. Yang kedua akan diberikannya kalau ia sudah berada di cabang pohon dan yang ketiga ketika ia sudah mencapai puncak bukit.
       Orang itu setuju, lalu ia meminta nasihat pertama. Kata burung itu, Kalau kau kehilangan sesuatu, meskipun engkau menghargainya seperti hidupmu sendiri, jangan menyesal.
    Orang itu pun melepaskannya dan burung itu segera melompat ke dahan. Disampaikannya nasihat yang kedua, Jangan percaya kepada segala yang bertentangan dengan akal, apabila tak ada bukti.

Pedagang Rahasia dan Kebenaran


Seorang guru mistik, setelah ia mencapai pengetahuan yang serba rahasia mengenai kebenaran sejati, yaitu pengetahuan yang hanya dapat dicapai oleh segelintir manusia, ia bermukim di Basrah.

Di sana ia memulai sebuah usaha dan dalam beberapa tahun saja telah memperoleh kemajuan.

Pada suatu hari seorang guru sufi yang telah mengenalnya beberapa tahun yang lalu, namun masih berada di atas jalan yang ditempuh oleh para pencari kebenaran, singgah di tempat kediamannya.

Tuhan Melihat Hatimu

              Pada suatu hari, Hasan Al-Basri pergi mengunjungi Habib Ajmi, seorang sufi besar lain. Pada waktu salatnya, Hasan mendengar Ajmi banyak melafalkan bacaan salatnya dengan keliru. Oleh karena itu, Hasan memutuskan untuk tidak salat berjamaah dengannya. Ia menganggap kurang pantaslah bagi dirinya untuk salat bersama orang yang tak boleh mengucapkan bacaan salat dengan benar. Di malam harinya, Hasan Al-Basri bermimpi. Ia mendengar Tuhan berbicara kepadanya, “Hasan, jika saja kau berdiri di belakang Habib Ajmi dan menunaikan salatmu, kau akan memperoleh keridaan-Ku, dan salat kamu itu akan memberimu manfaat yang jauh lebih besar daripada seluruh salat dalam hidupmu. Kau mencoba mencari kesalahan dalam bacaan salatnya, tapi kau tak melihat kemurnian dan kesucian hatinya. Ketahuilah, Aku lebih menyukai hati yang tulus daripada pengucapan tajwid yang sempurna.

Pintu Neraka


                Yazid Arraqqasyi dari Anas bin Malik ra. berkata: “Jibrail datang kepada Nabi saw pada waktu yang ia tidak biasa datang dalam keadaan berubah mukanya, maka ditanya oleh Nabi s.a.w.: “Mengapa aku melihat kau berubah muka?”
Jawabnya : “Ya Muhammad, aku datang kepadamu di saat Allah menyuruh supaya dikobarkan penyalaan api neraka, maka tidak layak bagi orang yang mengetahui bahawa neraka Jahannam itu benar, dan siksa kubur itu benar, dan siksa Allah itu terbesar untuk bersuka-suka sebelum ia merasa aman daripadanya.”
                 Lalu nabi s.a.w. bersabda: “Ya Jibrail, jelaskan padaku sifat Jahannam.”
Jawabnya : “Ya. Ketika Allah menjadikan Jahannam, Maka dinyalakan selama seribu tahun, sehingga merah, kemudian dilanjutkan seribu tahun sehingga putih, kemudian seribu tahun sehingga hitam, maka ia hitam gelap, tidak pernah padam nyala dan baranya.

Mimpi dan Irisan Roti


     Tiga orang musafir menjadi sahabat dalam suatu perjalanan yang jauh dan melelahkan; mereka bergembira dan berduka bersama, mengumpulkan kekuatan dan tenaga bersama.
       Setelah berhari-hari lamanya mereka menyadari bahwa yang mereka miliki tinggal sepotong roti dan seteguk air di kendi. Mereka pun bertengkar tentang siapa yang berhak memakan dan meminum bekal tersebut. Karena tidak berhasil mencapai persesuaian pendapat, akhirnya mereka memutuskan untuk membagi saja makanan dan minuman itu menjadi tiga. Namun, tetap saja mereka tidak sepakat.
         Malampun turun; salah seorang mengusulkan agar tidur saja. Kalau besok mereka bangun, orang yang telah mendapatkan mimpi yang paling menakjubkan akan menentukan apa yang harus dilakukan.
        Pagi berikutnya, ketiga musafir itu bangun ketika matahari terbit. “Inilah mimpiku,” kata yang pertama. “Aku berada di tempat-tempat yang tidak bisa digambarkan, begitu indah dan tenang. Aku berjumpa dengan seorang bijaksana yang mengatakan kepadaku, ‘Kau berhak makan makanan itu, sebab kehidupan masa lampau dan masa depanmu berharga, dan pantas mendapat pujian.”

Hikmah Milik Kita


            Salah satu sumber hikmah yang saya yakini adalah kisah. Ketika membaca sebuah kisah, baik kisah nyata atau rekaan, saya selalu berusaha untuk merenungkan, apa hikmah yang bisa saya ambil dibalik kisah itu. Kisah Nasrudin Hoja salah satunya. Kisah-kisahnya lucu dan menarik, mirip dengan kisah-kisah Abunawas. Ia adalah seorang sufi yang hidup di kawasan sekitar Turki pada abad-abad kekhalifahan Islam sampai pada penaklukan Bangsa Mongol.

             Di masa sekolah, Nasrudin selalu membuat ulah yang menarik bagi teman-teman sekolahnya, sampai-sampai mereka lalai dalam pelajaran sekolahnya. Karena ulahnya itu gurunya yang bijak pernah berujar "Kelak, ketika engkau sudah dewasa, engkau akan menjadi orang yang bijak. Tetapi, sebijak apa pun kata-katamu, orang-orang akan menertawaimu."

Tugas Murid Junaid


             Junaid Al-Baghdadi, seorang tokoh sufi, mempunyai anak didik yang amat ia senangi. Santri-santri Junaid yang lain menjadi iri hati. Mereka tak dapat mengerti mengapa Syeikh memberi perhatian khusus kepada anak itu.
             Suatu saat, Junaid menyuruh semua santrinya untuk membeli ayam di pasar untuk kemudian menyembelihnya. Namun Junaid memberi syarat bahwa mereka harus menyembelih ayam itu di tempat di mana tak ada yang dapat melihat mereka. Sebelum matahari terbenam, mereka harus dapat menyelesaikan tugas itu.
            Satu demi satu santri kembali ke hadapan Junaid, semua membawa ayam yang telah tersembelih. Akhirnya ketika matahari tenggelam, murid muda itu baru datang, dengan ayam yang masih hidup. Santri-santri yang lain menertawakannya dan mengatakan bahwa santri itu tak boleh melaksanakan perintah Syeikh yang begitu mudah.

Zun Nun


             Beberapa waktu yang lalu, di Mesir hidup seorang sufi yang tersohor bernama Zun-Nun. Seorang pemuda mendatanginya dan bertanya :"Master, saya belum faham mengapa orang seperti Anda mesti berpakaian apa adanya, amat sangat sederhana. Bukankah di zaman yang ini berpakaian moden amat perlu, bukan hanya untuk penampilan namun juga untuk tujuan banyak hal lain."

             Sang sufi hanya tersenyum, ia lalu melepaskan cincin dari salah satu jarinya, lalu berkata : "Orang muda, akan kujawab pertanyaanmu, tetapi lebih dahulu lakukan satu hal untukku. Ambillah cincin ini dan bawalah ke pasar di seberang sana. Cubalah, bisakah kamu menjualnya seharga satu keping emas."

             Melihat cincin Zun-Nun yang kotor, pemuda tadi merasa ragu; "Satu keping emas. Saya tidak yakin cincin ini bisa dijual seharga itu." "Cubalah dulu orang muda. Siapa tahu kamu akan berjaya menjualnya."

Kisah 3 Perkara


            Pada suatu hari Abu Nawas pergi ke pasar Baghdad lalu berkata dengan suara yang nyaring. " Dalam hidup saya ada tiga perkara yang selalu saya lakukan. Kalau kalian nak dengar sila datang beramai-ramai." 
 
Maka orang ramai pun berkumpul di keliling Abu Nawas. 

" Wahai Abu Nawas otak geliga tapi perangai gila-gila. Beritahu kami apa tiga perkara itu." desak seorang pengawal Khalifah Harun Al Rashid yang kebetulan berada di situ. 

" Yang pertama, saya selalu bersaksi dengan perkara yang tidak pernah saya lihat," jawab Abu Nawas. 

" Memang tuan orang gila," kata Pengawal Khalifah. 

"Yang kedua, saya selalu melarikan diri dari rahmat Allah swt." 

"MasyaAllah, Abu Nawas sudah sesat!" jerit orang ramai. 

Rumah Q

Tempat berteduh
Itulah rumah idamanku
Tempat melepas lelah
Tempat melepas rindu
Senang duka
Semuanya berbaur
Dalam rumah idamanku
Dalam rumah impianku
Kicau burung diatas pohon
Menggugah jiwa raga
Embun sejuk hawa pagi
Memberi salam kepadaku
Bersama Sang mentari
Kulangkahkan kakiku
Dari rumah idaman
Ke sekolah impian
Bercengkrama dengan keluarga
Melarutkanku dalam cerita
Di rumah idamanku yang paling kucinta

Al-Lail

Setiap malam
Ku s’lalu terjaga
Dari lelapnya mimpi
Dari nyenyaknya naum
Malam yang mencekam
Membuat jantung berdegup cepat
Bagai kereta api Exprees
Dalam terowongan
Malam ini amat dingin
Tak kau lihat aku tidur
Tanpa jaket
Hanyut dalam samudera teka-teki
Tak kulihat lagi
Bulan dan bintang
Menghiasi angkasa
Malam ini

BeBas

Sejak lama kumerasa
Terbelenggu dunia maya
Terbuai wanita
Terlalai karena harta benda
Sudah terlalu banyak …
Dilema menyengsarakanku
Juga karena penat
Yang terpendam di otakku
Serasa ingin berteriak kepada dunia
“Aku ingin bebas”
Sebebas-bebasnya
Hari-hari kulalui
Kulangkahkan kaki ini
Dengan langkah pasti
Citakan sebuah cita dalam mimpi
Ingin kugapai semua ini
Dengan caraku sendiri
Karena tak semua orang mengerti
Apa yang ingin kugapai

Arrahmat

Kutahu Ar-rahmat
Sejak kelas tiga SD
FISIKA MATEMATIKA segala ilmu
kuenyam ‘tiap hari
Ketika senja tiba
Suasana hening menyelimuti hati
Denting jam dinding
Membuat resah dan gelisah
Ketika pagi ‘kan menjelang
Resah itupun hilang lenyap
Diterjang embun pagi
Disusul Sang Surya mentari
Hawa dingin malam hari
Bagai enyah dalam mimpi
Hawa sejuk embun pagi
Membuatku segar kembali
Makin lama kutinggal disini
Kumakin tahu rahasia apa yang tersimpan
Dibalik semua ini
Tentang kehidupanku disini
Kudiajar disiplin ‘tiap hari
Kutaati peraturan dengan senang hati
Kesabaran ustadz membimbing kami
Membuat hati kami malu dengan tingkah kami
Selama ini …
Kudiajar setia kawan
Dengan alam dan kawan
AR-RAHMAT tercinta
Kau cetak generasi muda berkualitas
Dengan bekal iptek dan agama
Kau ajari kami berakhlaqul karimah
Guna bergaul dengan masyarakat
Bagi adik-adikku
Contohlah kakakmu
Teladanilah yang baik
Padankanlah yang buruk

Pengemis

Di saat mentari menampakkan raut mukanya
Kau bersiap bertugas layaknya perwira
Kau persiapkan barangmu
‘Tuk hidupi keluargamu
Dunia seakan termangu
Melihat rona wajahmu
Langit seakan hitam kelam
Melihat masa depanmu yang suram
Menengadahkan kepala
Kepada orang kaya raya
Hanya ‘tuk dapatkan sekeping logam
Yang mungkin bagimu
Itu sudah bak mutiara di lautan lepas

Hamba

Kuhanya seorang hamba
Yang tak berdaya
Tak berguna
Kecuali kerana petunjuk yang Esa
Aku seorang musafir cinta
Yang amat dahaga
Akan telaga kasih-Mu
Yang amat kudamba
Hingga akhir masa